Tuesday, May 3, 2016

PSIKOTERAPI


1.      PENGERTIAN PSIKOTERAPI MENURUT BEBERAPA TOKOH

Psikoterapi berasal dari dua kata yaitu “Psyche” yang artinya jiwa, pikiran atau mental dan “Therapy” yang artinya penyembuhan atau pengobatan. Yang berarti Psikoterapi adalah pengobatan secara psikologis untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perilaku dan juga perasaan. Biasanya juga Psikoterapi disebut juga dengan terapi kejiwaan, terapi mental atau terapi pikiran.
 Menurut Proschaska & Norcross (2007), Psikoterapi adalah proses yang digunakan profesional dibidang kesehatan mental untuk membantu mengenali, mendefinisikan, dan mengatasi kesulitan interpersonal dan psikologis yang dihadapi individu dan meningkatkan penyesuaian diri mereka.
Menurut Wolberg (1954), Psikoterapi adalah suatu bentuk dari perawatan (treatment) terhadap masalah-masalah yang dasarnya emosi, dimana seseorang yang terlatih dengan seksama membentuk hubungan profesional dengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah atau mencegah munculnya gejala dan menjadi perantara untuk menghilangkan pola-pola perilaku yang terhambat.
Sedang menurut Corsini (1989),  Psikoterapi adalah proses formal dari interaksi antara dua pihak, setiap pihak biasanya terdiri dari satu orang, tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang atau lebih pada setiap pihak, dengan tujuan memperbaiki keadaan yyang tidak menyenangkan (distress) pada salah satu dari kedua pihak karena ketidakmampuan atau malafungsi pada salah satu dari bidang-bidang berikut: fungsi kognitif (kelainan pada fungsi berfikir), fungsi afektif (penderitaan atau kehidupan emosi yang tidak menyenangkan) atau fungsi perilaku (ketidaktepatan perilaku); dengan terapis yang memiliki teori tentang asal-usul kepribadian, perkembangan, mempertahankan dan mengubah bersama-sama dengan beberapa metode perawatan yang mempunyai dasar teori dan profesinya diakui resmi untuk bertindak sebagai terapis.
Sehingga dapat disimpulkan secara garis besar bahwa apa sih Psikoterapi itu ??? Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Pengertian psikoterapi mencakup berbagai teknik yang bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosional dengan cara memodifikasi perilaku, pikiran, dan emosinya seperti halnya proses reedukasi (pendidikan kembali), sehingga individu tersebut mampu mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah psikisnya. Dan dimana berbagai teknik yang kesemuanya dimaksudkan membantu individu yang emosinya terganggu untuk mengubah perilaku dan perasaannya, sehingga mereka dapat mengembangkan cara yang bermanfaat dalam menghadapi orang lain

2.      JENIS-JENIS PSIKOTERAPI
  1. Psikoanalisis
Teori psikoanalitik tentang kepribadian menyatakan bahwa setiap individu terdapat kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan (id, ego, dan superego) yang menyebabkan konflik internal tidak terhindarkan. Freud percaya bahwa gangguan psikologi disebabkan oleh konflik tersebut, yang biasanya berawal pada masa anak-anak dini, di mana individu tidak menyadarinya, impuls dari emosi yang terlibat telah direpresi ke alam bawah sadar.
Konflik bawah sadar antara impuls agresif dan seksual dari id dan larangan-larangan yang dikeluarkan oleh ego dan superego dianggap Freud sebagai yang paling penting untuk tindakan maladaptif selanjutnya.
Asumsi penting dari psikoanalisis adalah bahwa masalah yang dialami seseorang pada saat ini tidak dapat dipecahkan dengan baik tanpa memahami sepenuhnya dasar alam bawah sadarnya dalam hubungan awal dengan orangtua dan saudara kandungnya. Tujuan psikoanalisis adalah mengangkat konflik (emosi dan motif yang direpresi) ke kesadaran sehingga dapat ditangani dengan cara yang lebih rasional dan realistik.

Asosiasi Bebas dan Analisis Mimpi
Asosiasi bebas klien diminta membebaskan kekangan terhadap pikiran dan perasaanya, dan diminta mengatakan apa saja yang muncul dipikiran tanpa mensensor atau mengeditnya. Analisis mimpi Freud yakin bahwa mimpi adalah “jalan kerajaan menuju ke alam bawah sadar”, Freud membedakan antara isi mimpi manifes (jelas sadar) dan isi mimpi laten (tersembunyi, tidak disadari).

Transferensi
Kecenderungan klien untuk menjadikan ahli terapi sebagai respons emosional. Freud berpendapat bahwa transferensi sikap ini sebagai cara untuk menjelaskan kepada pasien asal mula banyak kekuatiran dan ketakutan mereka dari masa anak-anak.

Interpretasi
Merupakan suatu hipotesis yang meringkaskan suatu segmen perilaku klien dan menawarkan suatu penjelasan tentang motivasinya. Interpretasi mungkin juga berbentuk meminta perhatian terhadap resistensi pasien.

Working Through
            Sambil analisis berjalan, pasien mengalami proses reedukasi yang panjang yang dikenal sebagai working through. Dengan memeriksa konflik yang sama saat hal itu muncul diberbagi situasi, klien menjadi memehaminya dan melihat betapa meresapnya (pervasifnya) sikap dan perilaku.

Psikoanalisis merupakan proses yang panjang, intensif dan mahal. Klien dan ahli analisis biasanya bertemu dalam sesi 50 menit selama beberapa kali setiap minggu selama sedikitnya satu tahun, dan sering kali beberapa tahun. Psikoanalisis paling berhasil pada individu yang sangat bermotivasi untuk memecahkan masalahnya, yang dapat memverbalisasikan perasaanya dengan cukup mudah, dan yang dapat menerimanya.

  1. Terapi Psikoanalitik atau Terapi Psikodinamik
Mereka memiliki kesamaan pandangan bahwa gangguan mental berakar dari konflik dan ketakutan bahwa sadar. Ahli analisis ego (seperti Karen horney dan Heinz hartman) memberikan penekanan yang lebih besar pada peranan ego yang rasional dan pemecah masalah dalam mengarahkan perilaku dan dengan demikian memberikan penekanan yang lebih lemah pada peranan dorongan seksual dan agresif bawah sadar.
Tetapi yang masih penting adalah keyakinan ahli terapi psikoanalitik bahwa motif dan ketakutan bawah sadar adalah inti dari sebagian besar masalah emosional dan serta proses working through adalah penting untuk menyembuhkan (Auld dan Hyman, 1991)
Terapi psikoanalitik biasanya lebih singkat, lebih fleksibel, dan tidak terlalu intensif. Sesi dijadwalkan lebih jarang, biasanya satu kali dalam setiap minggunya. Terdapat penekanan yang lebih lemah pada rekonstruksi lengkap masa anak-anak dan lebih diperhatikan masalah yang ditimbulkan dari cara individu sekarang berinteraksi dengan orang lain.

  1. Terapi Perilaku
Terapi perilaku didasarkan pada prinsip belajar dan pengkondisian, ahli terapi perilaku berpendapat bahwa perilaku maladaptif merupakan cara yang dipelajari untuk mengatasi stress dan sebagian teknik yang dikembangkan dalam penelitian ekspetrimental tentang belajar dapat digunakan untuk mengganti respons yang lebih tepat. Ahli terapi menyatakan bahwa, walaupun pencapaian tilikan adalah tujuan yang penting, tetepi hal ini tidak menjamin perubahan perilaku.

·         Desensitisasi dan Pemaparan Sistematik
Desensitisasi sistematik dapat dipandang sebagai proses deconditioning atau counterconditioning. Prosedur ini sangat efektif untuk menghilangkan rasa takut atau fobia. Prinsip terapi adalah memasukkan suatu respons yang bertentangan dengan kecemasan yaitu, relaksasi.
Penguatan sistematik (systematic reinforcement) proses belajar yang mendasari adalah counter conditioning atau pemadaman, desensitisasi sismtematik dan pemaparan didasarkan pada prinsip pengkondisian klasik, penguatan sistematik merupakan metode yang efektif untuk memodifikasi perilaku, terutama anak-anak.



·         Pemodelan
Cara lain yang efektif untuk mengubah perilaku adalah pemodelan (modeling : mencontoh ), yang menngunakan observasional. Karena mengamati contoh lain adalah prinsip utama dalam proses belajar pada manusia, mengamati orang yang menunjukan perilaku adaptif harus mengajarkan orang dengan respons maladaptif strategi mengatasi masalah yang lebih baik.
Pemodelan adalah cara yang efektif untuk mangatasi kecemasan dan ketakutan karena memberikan kesempatan kepada klien untuk mengamati orang lain mengalami situasi penimbul kecemasan tanpa menjadi terluka.

·         Pengulangan Perilaku
Dalam sesi terapi, pemodelan sering kali dikombinasikan dengan permainan simulasi (role-playing), atau pengulangan perulaku. Ahlil terapi membantu klien mengulang atau mepraktekkan perilaku yang lebih adaptif.
Bidang lain di mana pengulangan perilaku digunakan untuk membentuk kecakapan social adalah pelatihan ketegasan dengan melatih respon ketegasan (pertama dalam permainan simulasi dengan ahli terapi dan kemudian dalam situasi kehidupan nyata), klien tidak hanya mengurangi kecemasan tetapi juga membentuk teknik yang lebih efektif. Ahli terapi menentukan jenis situasi di mana klien adalah pasif dan kemudian membantunya memikirkan hal itu dan mempraktekkan beberapa respons ketegasan yang mungkin efektif. Ahli terapi mencoba mengajarkan klien untuk mengekspresikan kebutuhannya dalam cara yang langsung dan kuat, tetapi tidak dipandang oleh orang lain sebagai permusuhan atau ancaman.

·         Pengaturan Dirii
Pengaturan dini melibatkan pemantuan, atau pengamatan perilaku diri sendiri dan menggunakan berbagi teknik penguatan diri sendiri, menghukum diri sendiri, pengendalian atas kondisi stimulus, mengedepankan respons bertentangan untuk merubah perilaku maladptif. Penguatan diri adalah memberi hadiah kepada diri anda segera setelah mencapai tujuan spesifik ; hadiah dapat berupa pujian untuk diri sendiri, menonton program tv kesukaan, telephone kawan, makan makanan kesukaan. Menghukum diri sendiri adalah menyusun beberapa konsekuensi yang tidak menyenangkan karena gagal mencapai tujuan, seperti malarang diri anda untuk menikmati yang anda sukai (misalnya, tidak menonton program tv favorit) atau melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan (seperti membersihkan kamar).

  1. Terapi Perilaku Kognitif
Terapi kognitif perilaku adalah istilah umum untuk metode terapi yang menggunakan teknik modifikasi perilaku tetapi juga memasukkan prosedur yang dirancang untuk merubah keyakinan maladaptif. Ahli terapi mencoba membantu orang yang mengembalikan emosional yang mengganggu, seperti kecemasan dan depresi, dengan mengajarkan mereka cara yang lebih efektif untuk menginterpretasikan dan memikirkan pengalaman mereka. Komponen perilaku dari terapi menjadi peranan jika ahli terapi mendorong klien untuk membentuk jalan alternatif menguji implikasinya.

  1. Terapi Humanistik
Terapi humanistik menekankan kecenderungan alami individu ke arah pertumbuahan dan aktualisasi dini. Terapi humanistik membantu orang mengenali diri mereka yang sesungguhnya dan membuang keputusannya sendiri tentang kehidupan dan perilaku mereka. Tujuan terapi humanistik adalah mempermudah eksplorasi pikiran dan perasaan individu itu sendiri dan membantu individu sampai pada pemecahannya sendiri.

  1. Pendekatan Eklektik
Untuk membantu seorang klien memahami asal mula masalahnya, ahli terapi ekektik mungkin mendiskusikan aspek tertentu riwayat pasien tetapi mungkin merasa tidak perlu mengeksplorasi pengalaman masa anak-anak seluas yang dilakukan ahli psikoanalisis. ahli terapi ini memilih dari berbagi teknik yang paling tepat untuk klien tertentu. Sebagian ahli terapi menkhususkan diri dalam masalah spesifik, seperti alkoholisme, disfungsi seksual atau depresi.

  1. Terapi Kelompok
Terapi kelompok memberikan kesempatan bagi para klien untuk memecahkan masalahnya dengan kehadiran orang lain, untuk mengamati bagaimana reaksi orang lain terhadap perilaku mereka, dan untuk mencoba metode resposns yang baru jika metode lama terbukti tidak memuaskan. Terapi kelompok sering digunakan sebagai pelengkap psikoterapi individual.
Ahli terapi dengan berbagai orientasi (psikoanalitik, humanistik, dan kognitif perilaku) telah memodifikasi teknik mereka agar dapat diterapkan dalam kelompok terapi. Ahli terapi biasanya tetap berada di belakang layar, memberi kesempatan bagi para anggota untuk saling bertukar pengalaman, mengomentari perilaku seseorang, dan mendiskusikan masalah mereka sendiri dan masalah para anggota lain dari kelompok itu. Tetapi, di sebagian kelompok, ahli terapi berperan sangat aktif.

  1. Terapi Marital dan Keluarga
Terapi marital dan terapi keluarga dapat dianggap bentuk khusus terapi kelompok. Penelitian menunjukkan bahwa terapi bersama untuk kedua pasangan lebih efektif dalam memcahkan masalah perkawinan dibandingkan terapi individual kepada hanya salah satu pasangan (gurman dan keniskern, 1981).
Terdapat banyak pendekatan terapi marital, tetapi sebagian besar difokuskan pada membantu pasangan mengkomunikasikan perasaan mereka, membentuk pemahaman dan kepekaan yang lebih besar terhadap kebutuhan satu sama lain, dan mendapatkan cara yang lebih efektif untuk mengatasi konflik mereka. Dasar pikiran terapi keluarga adalah bahwa masalah yang ditunjukkan oleh seorang pasien merupakan tanda ada sesuatu yang tidak benar diseluruh keluarga, sistem keluarga tidak berjalan dengan baik, kesulitan mungkin terletak dalam komunikasi yang buruk di antara anggota keluarga atau dalam persekongkolan beberapa anggota keluarga, sehingga mengucilkan anggota keluarga lainnya.
Di dalam terapi keluarga, keluarga bertemu secara teratur dengan satu atau dua orang ahli terapi (biasanya seorang pria dan wanita). Ahli terapi, sambil mengamati interaksi di antara anggota keluarga, mencoba membantu tiap anggota untuk menyadari cara dirinya berhubungan dengan orang lain dan bagaimana tindakannya berperan dalam timbulnya masalah keluarga. Kadang-kadang rekaman videotape diputar ulang untuk membuat anggota keluarga menyadari bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain. Di lain waktu, ahli terapi mungkin mengunjungi keluarga di rumahnya untuk mengamati konflik dan percakapan yang terjadi dalam situasi alaminya.

3.      TUJUAN PSIKOTERAPI
Berikut ini tujuan dari psikoterapi menurut Ivey, et al (1987) dan Corey (1991), yang secara khusus dari beberapa metode dan teknik psikoterapi ini banyak digunakan:
  1. Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik, menurut Ivey, et al (1987): membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
  2. Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisi, menurut Corey (1991): membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
  3. Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat pada pribadi, menurut Ivey, et al (1987): untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhannya yang unik.
  4. Tujuan psikoterapi pada pendekatan terpusat pada pribadi, menurut Corey (1991): untuk memberikan suasana aman, bebas, agar klien mengeksplorasi diri dengan enak, sehingga ia bisa mengenai hal-hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa mengalami aspek-aspek pada dirinya yang sebelumnya ditolak atau terhambat.
  5. Tujuan psikoterapi dengan pendekatan behavioristik, menurut Ivey, et al (1987): untuk menghilangkan kesalahan dalam belajar dan untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih bisa menyesuaikan.
  6. Sehubung dengan terapi behavioristik ini, Ivey, et al (1987) menjelaskan mengenai tujuan pada terapi kognitif-behavioristik, yakni: menghilangkan cara berfikir yang menyalahkan diri sendiri, mengembangkan cara memandang lebih rasional dan toleran terhadap diri sendiri dan orang lain.
  7. Corey (1991) merumuskan mengenai kognitif-behavioristik dan sekaligus rasional-emotif terapi dengan: menghilangkan cara memandang dalam kehidupan pasien yang menyalahkan diri sendiri dan membantunya memperoleh pandangan dalam hidup secara rasional dan toleran.
  8. Tujuan psikoterapi dengan metode dan teknik Gestalt, dirumuskan oleh Ivey, et al (1987): agar seseorang menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang.
  9. Corey (1991) merumuskan tujuan terapi Gestalt: membantu klien memperoleh pemahaman mengenai saat-saat dari pengalamannya. Untuk merangsang menerima tanggung jawab dari dorongan yang ada di dunia dalamnya yang bertentangan dengan ketergantungannya terhadap dorongan-dorongan dari dunia luar.
Dapat disimpulkan bahwa beberapa tujuan psikoterapi antara lain :
  1. Perawatan akut (intervensi krisis dan stabilisasi)
  2. Rehabilitasi (memperbaiki gangguan perilaku berat)
  3. Pemeliharaan (pencegahan keadaan memburuk dijangka panjang)
  4. Restrukturisasi (meningkatkan perubahan yang terus menerus kepada pasien).






DAFTAR PUSTAKA



No comments:

Post a Comment